Pembinaan mental warga binaan Nasrani Rutan Kelas I Cirebon
Penerapan tema utama “jangan takut” menjadi fokus utama dalam sebuah sesi pembimbingan mental Nasrani yang berlangsung di Lapas Kelas I Cirebon. Pembicara yang memimpin acara menegaskan bahwa firman Tuhan yang menyertai umat percaya seharusnya mengusir rasa takut dari hati, karena kehadiran-Nya selalu nyata dan terus menerus, tidak tergantung pada kondisi aman atau bahaya yang dihadapi.
Garis besar materi yang disampaikan menegaskan bahwa menyertai Tuhan tidak berarti hidup seseorang selalu berada dalam keadaan aman atau bebas masalah. Justru sebaliknya, saat berada dalam situasi sulit—baik secara fisik, mental, maupun emosional—kehadiran Tuhan menjadi sumber penguatan, perlindungan, dan penghiburan yang sangat berarti. Narasi tersebut menekankan bahwa jaminan Tuhan tidak semata-mata berkutat pada kemudahan hidup, melainkan pada keberadaan-Nya yang menyertai setiap langkah perjalanan hidup seseorang.
Dalam bagian pembuka, sang pembicara mengutip ayat-ayat suci yang menegaskan perlunya tidak takut karena Tuhan selalu menyertai. Kutipan tersebut dipakai sebagai landasan teologis untuk membangun kepercayaan para peserta pembimbingan bahwa mereka tidak berjalan sendirian, meski berada dalam batasan fisik maupun situasi yang menantang. Narasi ini juga menekankan bahwa rasa takut bisa mereduksi kualitas pengambilan keputusan, sedangkan keyakinan akan penyertaan ilahi berpotensi memperkuat ketahanan psikologis para peserta.
Pemaparan lebih dalam menyoroti kenyataan bahwa ketakutan sering muncul pada masa menanti kebebasan dan masa depan yang masih belum pasti. Dalam konteks pembimbingan di lembaga pemasyarakatan, tema “jangan takut” menjadi pegangan penting bagi peserta yang tengah menanti proses kebebasan dari penahanan. Melalui bimbingan mental Nasrani, pendeta yang menjadi narasumber menekankan bahwa masa lalu tidak seharusnya menghambat masa depan. Pesan inti yang disampaikan adalah bahwa Tuhan menawarkan perlindungan serta penyertaan dalam setiap langkah hidup, termasuk di masa yang akan datang setelah masa pidana selesai.
Kehadiran Bapak Johnson Manurung, Kepala Rutan Kelas 1 Cirebon, turut diapresiasi dalam kesempatan ini. Beliau menyampaikan rasa syukur karena lembaga pemasyarakatan membuka pintu bagi program pembimbingan mental Nasrani. Pemberian kesempatan ini dinilai sebagai wujud komitmen lembaga terhadap pemulihan mental peserta pembimbingan, sejalan dengan tujuan pembinaan yang holistik.
Sejumlah peserta membagikan pengalaman pribadi mereka selama mengikuti pembimbingan. Mereka mengungkapkan bagaimana topik “jangan takut” membantu mengurangi kecemasan menjelang masa depan, serta bagaimana kehadiran Tuhan menjadi sumber kenyamanan ketika menghadapi ketidakpastian. Para peserta menyatakan keyakinan bahwa pembelajaran ini tidak hanya memberikan penghiburan spiritual, tetapi juga meningkatkan kedisiplinan diri, pengendalian emosi, dan fokus pada masa yang akan datang.
Para ahli dan praktisi di bidang pembinaan rohani menilai pendekatan ini sebagai upaya penting untuk membangun ketahanan mental di lingkungan pemasyarakatan. Keberadaan tema keagamaan yang positif, disertai dengan penekanan pada nilai-nilai harapan dan perlindungan ilahi, dianggap mampu memberikan stabilitas emosional bagi mereka yang sedang menjalani masa pembinaan. Selain itu, kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan dan komunitas rohani dinilai sebagai contoh praktik terbaik dalam program rehabilitasi yang berorientasi pada masa depan yang lebih baik bagi para mantan warga binaan.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada data resmi mengenai jumlah peserta yang mengikuti pembimbingan ini secara rinci. Namun, baik pihak Rutan Kelas I Cirebon maupun penyelenggara program menyampaikan harapan bahwa narasi “jangan takut” akan terus menjadi pedoman hidup para peserta, sehingga mereka dapat menghadapi masa depan dengan keyakinan bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan melindungi dalam setiap langkah perjalanan mereka, termasuk ketika mereka kembali ke masyarakat.
Penutup acara ditandai dengan doa bersama yang menekankan tema utama “jangan takut” sebagai bagian dari semangat pembinaan mental Nasrani. Pesan akhir yang disampaikan pendeta adalah ajakan untuk membiarkan masa lalu berlalu, memanfaatkan perlindungan ilahi sebagai landasan untuk masa depan yang penuh harapan, dan percaya bahwa Tuhan akan menyertai setiap langkah hingga tahap kebebasan tercapai.
