Kembangkan Program Tata Boga, Bimker L’sima Adakan Pelatihan Bakery

MALANG – Bimbingan Kerja (Bimker) Lapas Kelas I Malang menggelar pelatihan pembuatan kue (bakery) bagi warga binaan selama tiga hari berturut-turut, mulai 22 hingga 24 Oktober 2026. Pelatihan ini didampingi oleh mentor dari petugas Lapas Malang sendiri, dengan memberikan praktik langsung pembuatan beberapa varian kue menggunakan peralatan yang lengkap dan profesional. Kepala Seksi Bimbingan Kerja, Agung Fajar, menjelaskan bahwa Lapas Malang telah memiliki program kemandirian tata boga yang setiap hari memproduksi aneka jajanan basah untuk dipasarkan melalui Kafe Lapas dan koperasi. Namun, pelatihan kali ini memiliki fokus berbeda, yakni pengembangan keterampilan bakery, mulai dari pengolahan adonan hingga teknik pemanggangan dan pembuatan berbagai jenis kue.

“Program tata boga yang sudah berjalan selama ini berfokus pada produksi jajanan basah untuk memenuhi kebutuhan pasar sehari-hari. Melalui pelatihan bakery ini, kami ingin memperluas keterampilan warga binaan agar mampu menguasai teknik pembuatan berbagai jenis kue dengan peralatan yang sesuai. Pendampingan oleh petugas kami sendiri juga menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan potensi dan kemampuan yang ada di Lapas Malang,” ujar Agung Fajar. Ia menambahkan, setelah warga binaan menguasai teknik pembuatan sejumlah varian kue, program akan dilanjutkan ke tahap produksi dan pemasaran secara rutin. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat berkembang menjadi kegiatan produktif sekaligus menjadi bekal kemandirian bagi warga binaan setelah menyelesaikan masa pidana.

Salah satu warga binaan berinisial I mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui pelatihan tersebut. Menurutnya, praktik langsung dengan peralatan lengkap dan profesional memberikan gambaran nyata mengenai proses produksi kue, baik dalam skala industri maupun usaha rumahan. “Ini pengalaman baru bagi saya. Kami bisa belajar langsung membuat kue dengan peralatan yang lengkap dan profesional, seperti yang digunakan di pabrik atau industri rumahan (home industry). Saya jadi lebih memahami proses pembuatannya dan berharap keterampilan ini bisa menjadi bekal untuk bekerja atau membuka usaha setelah bebas nanti,” ungkap F.