Kembali, Lapas Karawang gelar Wisuda Santri Pondok Pesantren Nurul Iman
Karawang – Lapas Kelas IIA Karawang kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk warga binaan yang berkarakter dan berakhlak melalui penyelenggaraan Wisuda Santri Pondok Pesantren Nurul Iman Lapas Karawang. Kegiatan ini menjadi momentum istimewa bagi enam orang warga binaan yang telah menyelesaikan masa pidana sekaligus berhasil menuntaskan proses pembinaan keagamaan selama menjalani pembinaan di dalam Lapas.
Prosesi wisuda berlangsung dengan penuh khidmat dan dihadiri oleh Ketua Pondok Pesantren Nurul Iman Lapas Karawang KH. Ceceng Syarief, Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja (Binadik) Jatmiko, Kepala Sub Seksi Registrasi Farid, serta para pengajar Pondok Pesantren Nurul Iman Lapas Karawang yang selama ini membimbing para santri dalam mendalami ilmu agama.
Dalam sambutannya, KH. Ceceng Syarief menyampaikan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni penutupan masa belajar di pondok pesantren, melainkan menjadi awal dari tanggung jawab baru untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. Beliau berpesan agar seluruh santri senantiasa menjaga ibadah, akhlak, dan istiqamah dalam menjalani kehidupan setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Hari ini bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi langkah awal untuk membuktikan bahwa ilmu agama yang telah dipelajari mampu menjadi cahaya dalam menjalani kehidupan. Jadikan pengalaman selama di Pondok Pesantren Nurul Iman sebagai bekal untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, serta selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT,” pesan KH. Ceceng Syarief.
Sementara itu, Kepala Seksi Binadik Jatmiko menyampaikan bahwa keberhasilan enam warga binaan mengikuti wisuda merupakan hasil dari proses pembinaan yang dilaksanakan secara berkesinambungan di Lapas Kelas IIA Karawang. Menurutnya, pembinaan keagamaan menjadi salah satu fondasi utama dalam membentuk karakter warga binaan agar siap kembali menjalankan perannya sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab.
“Pemasyarakatan tidak hanya bertujuan menjalankan masa pidana, tetapi juga mempersiapkan warga binaan agar memiliki bekal moral, spiritual, dan mental ketika kembali ke masyarakat. Wisuda ini menjadi bukti bahwa pembinaan yang dilaksanakan di Lapas mampu memberikan perubahan positif serta menumbuhkan semangat untuk memulai kehidupan yang lebih baik,” ujar Jatmiko.
Prosesi wisuda kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada 6 (enam) santri yang telah menyelesaikan pembinaan di Pondok Pesantren Nurul Iman Lapas Karawang. Suasana haru menyelimuti kegiatan tersebut sebagai simbol berakhirnya masa pembinaan di dalam Lapas sekaligus dimulainya babak baru kehidupan yang diharapkan lebih bermakna dan penuh keberkahan.
Secara terpisah, Kepala Lapas Kelas IIA Karawang Ma’ruf Prasetyo Hadianto menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pembina dan pengajar Pondok Pesantren Nurul Iman yang telah berkontribusi dalam membina warga binaan. Menurutnya, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari selesainya masa pidana, tetapi juga dari perubahan sikap, pola pikir, dan keimanan warga binaan.
“Kami berharap enam santri yang diwisuda hari ini dapat menjadi pribadi yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat. Jadikan ilmu agama yang telah diperoleh sebagai pedoman hidup, sehingga mampu menjauhi perbuatan yang melanggar hukum dan menjadi insan yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Lapas Kelas IIA Karawang akan terus berkomitmen menghadirkan program pembinaan yang berkualitas sebagai bagian dari upaya mewujudkan tujuan sistem pemasyarakatan,” tegas Ma’ruf Prasetyo Hadianto.
Melalui kegiatan Wisuda Santri Pondok Pesantren Nurul Iman ini, Lapas Kelas IIA Karawang menegaskan bahwa proses pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masa pidana, tetapi juga pada pembentukan karakter, peningkatan keimanan, dan kesiapan warga binaan untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, mandiri, dan bertanggung jawab
