Dari Balik Lapas, Tembus Pasar China: Intip Proses Pembuatan Coco Sheet Lapas Kelas IIA Purwokerto
PURWOKERTO – Berawal dari serabut kelapa, warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Purwokerto mengolahnya menjadi coco sheet, produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi. Melalui program pembinaan kemandirian, warga binaan terlibat langsung dalam proses produksi, mulai dari menyiapkan bahan, menyusun serat, hingga menghasilkan lembaran coco sheet yang siap dikirim. Produk hasil pembinaan tersebut bahkan telah menembus pasar China (10/09)
Proses pembuatan coco sheet diawali dengan menyiapkan dan menyusun serat sabut kelapa hingga membentuk hamparan yang rapi dan merata. Serat kemudian dirapikan dan disesuaikan dengan ukuran yang dibutuhkan. Setelah itu, bahan perekat diberikan secara merata pada permukaan serat agar seluruh bagian dapat menyatu. Lembaran yang telah diberi perekat kemudian dijemur hingga kering sebelum memasuki tahap berikutnya.
Setelah kering, lembaran serat disusun dan ditumpuk sesuai ketebalan yang dibutuhkan. Tumpukan tersebut kemudian dipadatkan menggunakan alat press hingga serat menyatu dan membentuk lembaran coco sheet yang lebih kokoh. Setelah proses pengepresan selesai, lembaran kembali dirapikan dan disesuaikan ukurannya sebelum dipersiapkan untuk pengiriman.
Kepala Lapas Kelas IIA Purwokerto, Winarso, mengatakan bahwa pembinaan kemandirian diarahkan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah selesai menjalani masa pembinaan. “Kami ingin pembinaan yang diberikan tidak hanya menjadi kegiatan di dalam Lapas, tetapi juga menghasilkan keterampilan yang bisa menjadi bekal bagi warga binaan,” ujar Winarso.
Melalui keterlibatan dalam produksi coco sheet, warga binaan tidak hanya belajar mengolah bahan menjadi produk bernilai ekonomi, tetapi juga dilatih untuk bekerja secara teratur, menjaga kualitas, dan menyelesaikan proses produksi sesuai kebutuhan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian sekaligus persiapan bagi warga binaan agar memiliki keterampilan ketika kembali ke masyarakat.
Hasil pembinaan tersebut kini tidak hanya dipasarkan untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi juga telah menembus pasar China. Capaian ini menunjukkan bahwa produk hasil karya warga binaan memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Dari balik tembok Lapas, serabut kelapa diolah menjadi karya bernilai, sementara keterampilan yang diperoleh menjadi bagian dari bekal warga binaan untuk membangun kemandirian dan menatap kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat.
