Tantangan Besar PSI dalam Mengonversi Popularitas Jokowi Menjadi Kekuatan Elektoral Jelang Pemilu 2029
Kehadiran Jokowi di Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terus menjadi perhatian publik di tengah visi dan misinya menjadi partai besar jelang Pemilu 2029.
Di tengah upaya partai tersebut mendongkrak elektabilitas menuju Pemilu 2029, efek Jokowi disebut belum cukup untuk membuat PSI menyamai kekuatan PDI Perjuangan (PDIP).
Hasil survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 5-19 Juli 2026 memang menempatkan PSI di angka 4,1 persen.
Namun, posisi tersebut masih terpaut cukup jauh dari PDIP yang berada di angka 11,7 persen.
Kondisi tersebut turut dikomentari pegiat media sosial, Chusnul Chotimah. Ia membandingkan kiprah Jokowi ketika masih berada di PDIP dengan perannya setelah bergabung dengan PSI.
Diceritakan Chusnul, perjalanan politik Jokowi ketika berada di bawah naungan PDIP berlangsung relatif mudah karena ditopang mesin partai dan kader di berbagai daerah.
Ia menekankan bahwa Jokowi tidak harus bekerja sendirian untuk membangun kekuatan politiknya.
“Dulu Jokowi di PDIP tinggal duduk manis, cukup kader PDIP yang bekerja, Jokowi bisa jadi walikota, Gub hingga presiden,” ujar Chusnul, Rabu (26/8/2026).
Kini, menurut dia, situasinya berbeda. Jokowi justru harus turun langsung membantu membesarkan PSI.
Jokowi sendiri sebelumnya telah menyatakan kesiapannya melakukan safari politik dan turun langsung ke berbagai daerah untuk membantu PSI menghadapi Pemilu 2029.
Chusnul kemudian menyentil posisi elektabilitas PSI yang masih berada di bawah PDIP.
Baginya, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa popularitas Jokowi belum otomatis berubah menjadi kekuatan elektoral besar bagi PSI.
“Sekarang Jokowi terpaksa turun gunung banting tulang peras keringat,” tukasnya.
Hal tersebut ditegaskan Chusnul di tengah meningkatnya perhatian terhadap PSI setelah elektabilitas partai tersebut menembus 4,1 persen dalam survei SMRC.
Angka itu memang menjadi salah satu capaian tertinggi PSI, tetapi masih belum mendekati posisi PDIP dalam survei yang sama.
Chusnul juga menyentil terhadap orang-orang yang menurutnya berada di sekitar Jokowi. Ia menilai sejumlah figur tersebut justru berpotensi membuat langkah politik Jokowi tidak berjalan sesuai harapan.
“Soalnya anaknya kosong semua ditambah ternaknya seperti Budi Arie PSI dkk bungul berataan,” tandasnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa tindakan para pendukung tersebut justru dapat menghasilkan persoalan baru.
“Mereka bisanya cuma menjilat, niatnya mau nyenangkan tuannya tapi malah blunder,” kuncinya.
