Tepat Satu Tahun Jawara Beton, Menteri Imipas Tinjau Pembinaan Produktif Warga Binaan di Lapas Kelas I Tangerang
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang kembali menegaskan komitmennya sebagai institusi pembinaan yang produktif melalui kunjungan kerja Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Jend. Polisi (Purn) Drs. Agus Andrianto., S.H., M.H., bersama jajaran dalam rangka meninjau langsung pengembangan program pembinaan kemandirian unit Jawara Beton, Kamis (12/2). Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum peringatan satu tahun berdirinya unit Jawara Beton sebagai salah satu program unggulan pembinaan berbasis industri di lingkungan Pemasyarakatan.
Kunjungan tersebut menegaskan komitmen pembinaan Warga Binaan yang meliputi pembentukan karakter, penguatan kompetensi kerja, serta pemberdayaan ekonomi yang selaras dengan kebutuhan industri, khususnya di sektor konstruksi dan pengolahan beton. Komitmen ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pemasyarakatan dalam mendorong Warga Binaan agar memiliki keterampilan yang produktif, adaptif, dan berdaya saing saat kembali ke masyarakat.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan beserta Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut (Kartika Listriana, S.T., MPPM), Sekretaris Jenderal Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan beserta jajaran, Direktur Utama PLN, perwakilan Summarecon, perwakilan Kreasi Purnama Group, perwakilan BRI, jajaran Polres Tangerang, Kapolsek Benteng, Kapolsek Tangerang Kota, Danramil Tangerang, Kepala BPSDM Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan beserta rombongan, Kepala Kantor Imigrasi Cilegon, Kepala Kantor Imigrasi Tangerang, serta para Kepala UPT se-Tangerang Raya. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut mencerminkan kuatnya dukungan lintas sektor terhadap penguatan pembinaan berbasis produktivitas di lingkungan Pemasyarakatan.
Dalam peninjauan tersebut, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan meninjau secara langsung proses produksi yang dijalankan Warga Binaan, mulai dari tahapan pencetakan, pengeringan, hingga produk akhir. Menteri juga melakukan evaluasi satu tahun pengembangan unit Jawara Beton dengan melihat berbagai inovasi, termasuk pengembangan RISHAM (Rumah Instan Sehat Aman dan Murah) berupa panel beton rumah tahan gempa. Sejumlah produk unggulan seperti paving block, roster, serta beragam produk turunan beton lainnya turut dipamerkan sebagai bukti peningkatan kualitas, kapasitas produksi, dan inovasi berkelanjutan.
Selain meninjau Jawara Beton, kunjungan ini juga dimanfaatkan untuk melihat secara langsung kesiapan Lapas Kelas I Tangerang dalam rencana pengembangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pengembangan ini merupakan bagian dari dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai program nasional pemerintah bagi anak-anak sekolah. Melalui SPPG, Lapas Kelas I Tangerang berperan sebagai sarana pendukung penyaluran makanan bergizi dengan melibatkan Warga Binaan dalam proses layanan tersebut.
Inovasi dan capaian tersebut memperoleh apresiasi langsung dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto. Ia menilai unit Jawara Beton sebagai contoh konkret keberhasilan pembinaan berbasis industri yang mampu berkontribusi pada program strategis nasional, khususnya dalam mendukung pembangunan sarana Program Makan Bergizi Gratis melalui penyediaan kebutuhan konstruksi SPPG.
“Kami berterima kasih kepada Kepala Badan Gizi Nasional yang telah memberikan kesempatan kepada jajaran Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, untuk terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis`. Pada tahap pertama terdapat delapan titik, satu telah berjalan di Sukamiskin sehingga total menjadi sembilan, dan pada tahap berikutnya direncanakan pembangunan sekitar 200 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang juga akan melibatkan jajaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan,” ungkap Agus Andrianto.
Apresiasi serupa turut disampaikan oleh Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Laksamana TNI (Purn.) Dr. Didit Herdiawan, M.P.A., M.B.A.,, yang menilai program tersebut sebagai wujud nyata sinergi antara pembinaan dan kebutuhan pembangunan nasional.
“Inisiatif ini menunjukkan bahwa pembinaan di lingkungan pemasyarakatan dapat menjadi sarana pemberdayaan yang efektif. Dengan kolaborasi lintas sektor, hasil pembinaan tidak hanya berhenti di dalam Lapas, tetapi dapat langsung menjawab kebutuhan industri dan pembangunan nasional. Optimalisasi produksi ini juga bukan semata untuk menekan biaya, melainkan sebagai langkah konkret dalam memenuhi kebutuhan material pembangunan—mulai dari hunian hingga infrastruktur jalan—guna mendukung produktivitas di lapangan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur PLN UBP Lontar 3 Banten, Darmawan Prasodjo, menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan unit Jawara Beton sebagai bagian dari kolaborasi BUMN dalam mendorong program pembinaan produktif. Ia menegaskan bahwa keterlibatan PLN tidak hanya sebatas dukungan infrastruktur, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam memperkuat ekosistem pembinaan berbasis industri di lingkungan Pemasyarakatan.
“Kami melihat program ini memiliki potensi besar, tidak hanya dalam aspek produksi, tetapi juga dalam membangun kapasitas sumber daya manusia. FABA bukan sekadar limbah, melainkan solusi efisiensi yang dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan menjaga kualitas SDM, ketersediaan bahan baku, serta ketepatan waktu pengiriman, sinergi antara PLN dan Lapas Kelas I Tangerang diharapkan terus berkembang, sehingga mampu mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih terjangkau dan berkelanjutan, sekaligus memberikan dampak nyata bagi Warga Binaan dan masyarakat,” ungkap Darmawan.
Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, menegaskan bahwa unit Jawara Beton dirancang sebagai sarana pemberdayaan sosial sekaligus ekonomi bagi Warga Binaan.
“Kami berkomitmen menempatkan Warga Binaan sebagai subjek pembinaan yang dilibatkan secara aktif dalam seluruh tahapan proses, mulai dari perencanaan, produksi, hingga pengendalian mutu. Melalui mekanisme tersebut, mereka tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga membentuk disiplin, tanggung jawab, serta etos kerja sebagai bekal untuk kembali berperan secara produktif di tengah masyarakat,” jelasnya.
Sinergi lintas instansi ini membuka peluang strategis bagi pengembangan unit Jawara Beton, mulai dari peningkatan kualitas dan variasi produk, penguatan standar produksi, perluasan jejaring pemasaran, hingga potensi kerja sama penyerapan tenaga kerja bagi Warga Binaan setelah menyelesaikan masa pidana. Kolaborasi tersebut sekaligus menegaskan bahwa pembinaan di lingkungan pemasyarakatan dapat terintegrasi secara konstruktif dengan ekosistem industri dan agenda pembangunan nasional.
Melalui unit Jawara Beton, Lapas Kelas I Tangerang terus mengembangkan model pembinaan progresif yang menempatkan Warga Binaan sebagai insan produktif yang diberdayakan dan memiliki peran nyata dalam proses pembangunan. Program ini diharapkan tidak hanya menghasilkan produk beton yang berkualitas dan inovatif, tetapi juga melahirkan sumber daya manusia yang terampil, mandiri, berdaya saing, serta siap berkontribusi positif bagi masyarakat dan dunia kerja setelah kembali ke lingkungan sosialnya.
